Selasa, 20 September 2016

aku cinta indonesia



Nama : Linda Suci Arniawati
Kelas : 3A
Mata Kuliah: MORFOLOGI
Dosen Pemangku: ERMAWATI SULAIMAN
TUGAS KEEMPAT
1.       Kapan suku kata dikatakan telah mengalami proses morfologi
2.       Bagaiana cara anda menentukan bentuk dasar, beri penjelasan beserta contoh
3.       Mengapa bentuk bolak-balik dan sayur-mayur dikatakan sebagai hasil proses morfologi
Jawab:
1.       Ketika bentuk dasar kata telah mengalami penambahan morfem melalui pembubuhan afiks, pengulangan(reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi),pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi).

.     
2.    Cara menentukan bentuk dasar, bisa dilihat dari kata yang mendapat pelekatan morfem. Kata yang mendapatkan afiks berupa prefiks,infiks,sufiks, dan konfiks. Contohnya: meminum merupakan kata yang mendapat pelekatan afiks me- dan kata dasarnya merupakan minum, bercerita merupakan kata yang mendapat pelekatan afiks berupa ber- dan kata dasarnya cerita, kesadaran merupakan kata yang mendapatkan pelekatan konfiks (ke-an) dan kata dasarnya adalah sadar.
.
  
3.  Karena bolak-balik mendapatkan proses reduplikasi pada proses pembentukan kata,Merupakan reduplikasi …. yang mengalami perubahan dan pengulangannya hanya pada sebagian  fonem yaitu fonem “o” “a” dan “a” “I” Dan sayur mayur merupakan reduplikasi ….. , yang mengalami perubahan hanya pada sebagian fonem-fonemnya  “s” dan “m”.

aku cinta indonesia



Nama : Linda Suci Arniawati
Kelas : 3A
Mata kuliah : Morfologi
Dosen Pemangku: Ermawati Sulaiman
TUGAS KETIGA

1.       Berdasarkan kemampuannya berdistribusi morfem-morfem pada kalimat berikut termasuk morfem apa
-          Setiap malam ia berpesta pora menuruti hawa nafsunya
-          Balap sepeda bertajuk tour de siak bakat dimulai besok
2.       Carilah morfem-morfem afiks bahasa Indonesia yang tergolong produktif dan tak produktif beserta contohnya

Jawab:

1.       Pada kalimat pertama; ( Setiap malam ia berpesta pora menuruti hawa nafsunya).
Kata “setiap” merupakan kata dasar
Kata  “berpesta pora” merupakan distribusi morfem imbuhan (afiks) pada kata pesta yang  di beri afiks ber dan pora merupakan morfem terikat yang selalu melekat pada kata pesta.
Kata “menuruti” bentuk dasar yng mendapat imbuhan {me-i} merupakan morfem terikat.
Kata “hawa nafsunya” merupakan kata yang saling berkaitan. Merupakan morfem terikat.

pada kalimat kedua;( Balap sepeda bertajuk tour de siak bakat dimulai besok)
kata “balap” merupakan morfem bebas yang da[at bediri sendiri.
Kata “sepeda” merupakan morfem bebas ang apat berdiri sendiri
Kata bertajuk merupakan distribusi morfem imbuhan (afiks) pada kata tajuk yang mendapatkan pelekatan  afiks ber
Kata “dimulai” merupakan morfem yang mendapat imbuhan di
Kata”besok” merupakan morfem bebas yang dapat berdiri sendiri.

2.       Morfem yang tergolong produktif dan tak produktif.
Afiks yang produktif ialah yang hidup, yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada kata-kata atau morfem –morfem . Sedangkan afiks tak produktif ialah afiks yang sudah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata, yang tidak lagi membentuk kata-kata baru.
*Contoh afiks produktif adalah  yang diberi sufiks (-wan): bangsawan, hartawan, jutawan, dermawan, sejarahwan, negarawan,bahasawan,karyawan. Konfiks (pe-an): perkoperasian, perbankan, pertokoan, perkebunan. Konfiks(peN-an): pemikiran, penghijauan, pembangunan, pengambilan, pengawetan, penyusunan. Konfiks (ke-an) : keadilan, kewarganegaraan, keberangkatan, kepergian, kemanusiaan.
*Contoh afiks tak produktif, afiks –man yang hanya terdapat pada kata budiman dan seniman. Afiks-afiks -el,-er,dan –em yang terdapat pada kata gemetar, geletar, gerigi,gerenyut, gemuruh, temali, seruling. Afiks –da yang hanya terdapat pada kata-kata yang menyatakan hubungan kekeluargaan misalnya adinda, kakanda, ayahnda, ibunda.


Yang termasuk golongan afiks yang produktif adalah
Prefiks: meN-, ber-, di-, ter-, peN-, pe-, se-, per-, ke-
sufiks: -kan, -an, -i, -wan
konfiks : ke-an, peN-an, per-an, ber-an, se-nya.
Yang tergolong afiks tak produktif ialah par-, a-, -el, -er, -em, -wati, -is, -man, -da, dan –wi.

Rabu, 14 September 2016

aku cinta Indonesia



Nama : Linda Suci Arniawati
Kelas : 3A
Mata Kuliah: Morfologi
Dosen Pemangku: Ermawati Sulaiman,S.Pd.,M.A
TUGAS KEDUA
1.        Menurut anda apakah setiap kata pasti morfem bebas, dan setiap morfem bebas pasti kata? Beri penjelasan anda
2.       Berdasarkan materi yang sudah dijelaskan sebelumnya, apakah anda memiliki pendapat lain dalam menentukan morfem,morf dan alomorf
3.       Untuk mencari morfem {ter} bolehkah kita menderetkan bentuk-bentuk berikut:
Terjadi                  terbang
Tertawa               ternak
Terbawa              terangkat

Jawab:

1.       Setiap kata bukanlah morfem bebas, karena kata-kata yang ada jika diambil contoh secara acak sebuah kata itu, belum tentu morfem bebas.
Pengertian morfem bebas itu sendiri adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam satu kalimat pertuturan tanpa adanya morfem lain atau terikat oleh morfem lain. Contoh morfem bebas; makan, pulang, rumah, bebas, bagus.
Dan setiap morfem bebas pasti kata, adalah iya. Karena seperti contoh yang telah disebutkan tadi, merupakan kata-kata yang biasa ada dan menjadi bagian dari sebuah kalimat. Morfem bebas juga dapat berupa kata dasar, dan pokok kata.

2.       Menentukan morfem, morf dan alomorf. Morfem adalah bentuk dasar. Morf adalah bentuk terkecil dari morfem yang belum diketahui statusnya dalam hubungan  keanggotaan terhadap suatu morfem. Alomorf adalah bentuk dari morfem yang sudah diketahui statusnya. Contoh: {meng-} dalam menggali. Saat belum diketahui statusnya morfem disebut morf, tetapi setelah diketahui statusnya yakni sebagai pendistribusi terhadap fonem berkonsonan/g/ maka morf ini disebut alomorf.  

3.       Terjadi
Terbawa
Tertawa
Terbang
Ternak
Terangkat
Beberapa bentuk kata diatas tidak boleh di deretkan , karena dalam kata itu, yakni kata terbang dan ternak adalah satu kesatuan kata yang tidak diawali oleh prefiks “ter”. Sedangkan terjadi, terbawa, tertawa tarangkat adalah kata yang diberi prefiks “ter” dan memiliki makna yaitu berupa kegiatan.

aku cinta Indonesia



Nama : Linda Suci Arniawati
Kelas : 3A
Mata Kuliah: Morfologi
Dosen Pemangku: Ermawati Sulaiman, S.Pd., M.A.
TUGAS PERTAMA
1.       Kapan suatu bentuk linguistik dikatakan sebagai bentuk yang sama, dan kapan dikatakan sebagai bentuk yang berbeda?

Jawab:
Untuk mengetahui  sebuah morfem sebagai bentuk yang sama atau berbeda  perlu dilakukan perbandingan satuan bentuk kata dengan bentuk-bentuk satuan kata yang lain.
 Sebuah kata bisa dikatakan morfem apabila bentuk satuan katanya bisa hadir secara berulang-ulang dalam bentuk yang lain, Sedangkan  dikatakan bukan morfem apabila bentuk satuan katanya tidak bisa*berterima dalam bentuk yang lain.

Contoh
*
Kedua, ketiga, kelima, ketujuh
Bentuk[kedua] jika dibandingkan dengan contoh di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Sehingga bentuk ke pada contoh di atas adalah morfem.

**

Kepasar,kekampus,kedapur,kemesjid
Bentuk ke pada contoh diatas juga dapat disegmentasikan sebagai morfem, karena memiliki satuan tersendiri dan mempunyai arti yang sama, yaitu menyatakan arah dan tujuan.

***
Perbandingan bentuk lantar;
Menelantarkan, terlantar, lantaran
Bentuk lantar meskipun terdapat berulang-ulang pada bentuk menelantarkan , terlantar dan lantaran. Bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya. Menelantarkan dengan terlantar memang masih memiliki hubungan, tetapi bentuk menelantarkan dan terlantar tidak ada hubungannya dengan lantaran.



Kamis, 12 Mei 2016

tugas 3

NAMA: LINDA SUCI ARNIAWATI (156210648)
KELAS: 2A
DOSEN: ERMAWATI SULAIMAN S.pd.,M.pd
Tugas 3
1.       Bunyi konsonan di klasifikasikan berdasarkan tempat artikulasi, cara artikulasi, dan bergetar tidaknya pita suara. Coba jelaskan apa maksudnya!
2.       Apa yang terjadi pada sebuah konsonan dengan bergetar tidaknya pita suara? Jelaskan!
3.       Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan Striktur!
[g] adalah konsonan dorsovelar, hambat, bersuara
[d] adalah apikoalveolar, hambat, bersuara
[h] adalah konsonan laringal, geseran, bersuara
[j] adalah konsonan laminopalatal,paduan bersuara
[C] adalah konsonan laminopalatal, tak bersuara
[s] adalah konsonan laminopalatal, geseran, tak bersuara
       4. Apa bedanya gugus konsonan dengan Deret konsonan? Dan berikan contoh!
JAWAB:
1.       Bunyi konsonan , diklasifikasikan:
v  tempat artikulasi, yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif.
Tempat artikulasi disebut titik artikulasi.
v  Cara artikulasi, yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru ke luar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu.
v  Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara.
2.       Apa yang terjadi  pada bunyi konsonan, bergetar tidaknya pita suara?
ð  Bergetarnya pita suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.
3.       Jelaskan apa yang dimaksud dengan striktur!
ð  Striktur yaitu hubungan posisi antara articulator aktif dan articulator pasif.
4.       Perbedaan gugus konsonan dan deret konsonan
·         Gugus konsonan berada pada sebuah silabel. Sedangkan,
·         Deret konsonan berada diantara dua silabel.

CONTOH:
·         Contoh, gugus konsonan:
[br] dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata; <brahmana> dan <labrak>
[kl] hanya menduduki posisi awal seperti pada kata; <klasik> dan <klinik>
[fr] dapat menduduki posisi awal dan posisi tengah, seperti pada kata;<frater> dan <infra>

·         Contoh deret konsonan:
[mb] seperti kata<lambat>(lam-bat)
                                <sambut>(sam-but)
                                <tembus>(tem-bus)
[ks] seperti kata<taksir> (tak-sir)
                                <paksa> (pak-sa)
                                <siksa> (sik-sa)
[nd] seperti kata <undang> (un-dang)
                                <tanding> (tan-ding)

                                <kandang> (kan-dang)

tugas 4

NAMA: LINDA SUCI ARNIAWATI (156210648)
KELAS: 2A
DOSEN: ERMAWATI SULAIMAN S.pd.,M.pd
Tugas 4
1.       Jelaskan yang dimaksud dengan diftong? Mengapa dalam bahasa tradisional disebut vocal rangkap? Jelaskan!
2.       Diftong (au) disebut diftong naik. Coba jelaskan apa sebabnya!
3.       Diftong (ua) pada kata jawa (muarem) ‘sangat puas’ disebut diftong turun. Coba jelaskan apa sebabnya!
4.       Temukan dan berikan penjelasan diftong dalam bahasa daerah anda masing-masing!

JAWAB:
1.       Diftong adalah dua huruf vocal yang terdapat dalam kata. Huruf vocal itu terdiri  dari (a, I, u, e, o). kata diftong seperti (au),(ai), (oi).
Mengapa dalam bahasa tradisional disebut vocal rangkap, karena huruf diftong merupakan huruf vocal yang terdiri dari dua huruf vocal berdekatan(rangkap).
2.       Diftong (au) disebut diftongnaik, karena dalam diftong (au) yang terdiri dari (a) dan(u). ‘a’ merupakan vocal rendah dan ‘u’ merupakan vocal tinggi. Dari segi pengucapan penyebutan vocal ‘a’ lidah berada di bawah dan ketika menyebutkan vocal ‘u’ posisi lidah naik keatas. Sehingga (au) disebut diftong naik.
3.       Diftong (ua), pada kata <muarem> yang artinya sangat puas. Disebut diftong turun karena huruf ‘u’ merupakan vocal tinggi dan huruf ‘a’ merupakan vocal rendah. Sehingga dalam pengucapan  bunyi(u) posisi lidah berada di atas kemudian fonem (a) merupakan vocal rendah sehingga posisi lidah menjadi turun.
4.       Penjelasan diftong bahasa daerah
Kui ( terdapat deret vokal yaitu fonem u dan i) kui  berarti itu
Kei( terdapat deret vokal yaitu fonem e dan i) kei berarti kasih/beri
Pie (terdapat deret vokal yaitu fonem i dan e) pie berarti gimana
Wae ( tedapat deret vokal yaitu fonem a dan e)  wae berarti aja
Koe (terdapat fonem vokal yaitu o dan e) koe berarti kamu

untuk diftong ai, au dan oi hampir minim dan sangat jarang ada dalam kosa kata jawa

Minggu, 20 Maret 2016

tugas 2 ( FONOLOGI)

NAMA: LINDA SUCI ARNIAWATI
KELAS :2A
DOSEN PEMANGKU: ERMAWATI SULAIMAN S.Pd., M.Pd

TUGAS 2

1. Apa yang membedakan bahasa baku dan tidak baku?
2. Bagaimana cara membedakan sebuah bunyi adalah foem atau bukan?
3. Apa yang dimaksud denga dental?
4. Apa yang dimaksud dengan kesatuan bunyi terkecil? dan apa hubunganya dengan fonem?
5. Apa yanh dimaksud dengan distribusi dan lingkungan?
6. Mengapa ketika menganalisis fungsionalisasi bunyi yang dipasagkan adalah bunyi -bunyi yang hormogan atau sefonetis. mengapa tidak sembarangan bunyi yang dipasangkan? jelaskan beserta contoh!

jawab:
1). kata baku adalah kata yang digunakan sudah benar dan sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa indonesia yang sumber utamanya dari kamus besar bahasa indonesia (KBBI)
kata baku menurut (KBBI,1988:71)
(1) Pokok utama; (2) tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas dan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan;standar.
pengertian bahasa Indonesia baku adalah salah satu ragam bahasa indonesia yang bentuk bahasanya telah dikodifikasi,diterima, dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat indonesia secara luas.
      kata baku biasanya sering digunakan ketika, membuat karya ilmiah ,membuat surat dinas,membuat surat lamaran pekerjaan dan membuat laporan.
contoh kata baku : pasif,aktif,apotek,efektif,karena,objek ,bus.
contoh kalimat baku: pada hari ini saya akan keluar kota.

      kata tidak baku adalah kata yang digunakan tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang sudah ditentukan.
bahasa indonesia non baku adalah salah satu ragam bahasa indonesia yang tidak dikodifikasi, tidak diterima dan tidak difungsikansebagai model masyarakat indonesia secara luas, tetapi di pakai oleh masyarakat secara khusus.
      biasanya kata tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur.
faktor faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku diantaranya sebagai berikut:
- menggunakan bahasa tanpa mengetahui penulisan dari kata yang di maksud.
-penggunaan bahasa yang salah dan tidak diperbaiki.
-seseorang pengguna bahasa yang sudah terpengaruh dari orang-orang yang terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.
contoh kata tidak baku: aktip,pasip,bis,karna,efektip,obyek.
contoh kalimat tidak baku: saya akan keluar kota pada hari ini.

        yang membedakan bahaa baku dan tidak baku:
bahasa baku                                                                                bahasa tidak baku:
ciri ciri kebakuan:                                                                      ciri ciri tidak kebakuan:
1. tidak dipengaruhi bahasa daerah                                          1. dipengaruhi bahasa daerah
2. tidak dipengaruhi bahasa asing                                            2. dipengaruhi bahasa asing
3. bukan merupakan bahasa pasar                                            3. merupakan bahasa pasar
4. pemakaian imbuhan secara eksplisit                                    4. pemakaian imbuhan secara implisit
5. pemakaian sesuai dengan konteks kalimat                           5. pemakaian tidak sesuai kontek kalima
6. tidak rancu                                                                            6. rancu
7. tidak mengandung pleonasme                                               7. mengandung pleonasme
8. tidak mengandung hiperkorek                                              8. mengandung hiperkorek

2) untuk mengetahui apakah sebuah bunyi adalah fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi terseut. lalu membandingkanya dengan satuan bahasa yang mirip dengan satuan bahasa pertama. kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem, karena dia bisa berfungsi membedakan makna kedua satua bahasa itu . misalnya dalam bahasa indonesia; kata lari[l],[a],[r],[i], satuan terkecil diganti dengan huruf [m], [t],[c],[k],[s] dan akan memiliki makna yang berbeda.
[m],[a],[r],[i]  'mari'          [t],[a],[r],[i]  'tari'        [c],[a],[r],[i]  'cari'     [k],[a],[r],[i]  'kari
[s],[a],[r],[i]  'sari

3) Dental menurut (KBBI)
adalah /den-tal/ ling (1) a berhubungan dengan gigi atas dalam proses artikulasi suatu bunyi.(2) a terjadi karena penyempitan atau persentuhan antara (ujung) lidah dan gigi (3) n bunyi terbentuk dengan cara demikian.
       konsonan demtal (disebut pula sebagai konsonan gigi) adalah konsonan yang artikulasi dengan lidah menyentuh gigi atas, seperti [t],[d],[n],dan[l] dalam beberapa bahasa.

4) bunyi bahasa sebagai kesatuan bunyi terkecil diartikan dalam bidang fonologi, yakni ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata.
fonem itu sendiri adalah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti.
fonem adalah bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.
fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.
fonem adalah satuan bunyi terkecil dari arus ujaran.
      sehingga ,kesatuan bunyi terkecil yang berupa suatu ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata,dalam fonem sangat penting dan berpengaruh karena dengan kesatuan bunyi terkecil fonem dapat membedakan makna kata satu fdengan kata lainnya.


5.Pokok –pokok pikiran tentang bunyi berbentuk pernyataan-pernyataan yang lumrah atau maklum sehingga tidak perlu dipersoalkan lagi, maka pokok-pokok pikiran itu bisa disebut premis-premis.
Pokok-pokok pikiran atau premis-premis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 Bunyi-Bunyi Suatu Bahasa Cenderung Dipengaruhi oleh lingkungannya
Premis ini bisa dibuktikan dengan deretan bunyi pada kata-kata bahasa Indonesia berikut:
[nt] pada [tinta] dan [ṇḍ] pada [tuṇḍa]
[mp] pada [mampu] dan [mb] pada [kәmbar]
[ñc] pada [piñcaƞ] dan [ƞg] pada [taƞga]
[ƞk] pada [nanka] dan [ñj] pada [panjaƞ]
Deretan bunyi tersebut saling mempengaruhi dan saling menyesuaikan demi kemudahan pengucapan. Deretan bunyi tersebut mempunyai kesamaan fonetis. Bunyi [n], [t], dan [d] sama-sama bunyi dental, bunyi [m], [p] dan [b] sama-sama bunyi bilabial, bunyi [ñ], [c], dan [j] sama-sama bunyi palatal, sedangkan bunyi [ƞ], [k], dan [g] sama-sama bunyi velar.


Bunyi-Bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak
berkontras apabila berdistribusi komplementer dan atau bervariasi
bebas.
Tidak berkontras adalah tidak membedakan makna.bunyi-bunyi dikatakan berdistribusi komplementer apabila bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis itu saling mengekslusifkan.
Contoh:Bunyi[k]dan [?]adalah bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis.Dalam bahasa indonesia,kedua bunyi itu saling mengekslusifkan.bunyi [k]tak pernah menduduki posisi[?]dan bunyi[?]tak pernah menduduki


  Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke
dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip.
Mengetahui kontras tidaknya bunyi-bunyi suatu bahasa dilakukan dengan cara pasangan minimal,yaitu penjajaran dua atau lebih bentuk bahasa terkecil dan bermakna dalam bahasa tertentu yang secara ideal(berbunyi)sama,kecuali satu bunyi yang berbeda.
Contoh:[tari] -[dari]
[paku]-[baku]

Mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.
Berdasarkan korpus di atas,pasangan bunyi yang berdistribusi komplementer adalah[p]dan[p’]
[p] [p’]
1) [#pa+pan#] ‘papan’ 2) [#ra+tap’#] ‘ratap’
3) [#pi+kīr] ‘fikir’ 14) [kɛ+cap’#] ‘kecap’
Kalau bunyi –bunyi yang berdistribusi komplementer ,masing-masing bunyi tersebut bagaiman distribusinya?
Ternyata: [p] sebagai onset silaba
[p’] sebagai koda silaba
Jadi [p] dan [p’] adalah alofon dari fonem yang sam, yaitu /p/.

 Mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas.
[p] [p]
Golongan 1 Golongan 2 Golongan 2
1)[#pa+pan#] ‘papan’ 3)[#pi+kīr#] 9)[#fi+kīr#]
Kalau [p] dan [f] bervariasi bebas
Ternyata: [f] sebagai onset silaba dalam kata golongan 2-1
[p] sebagai koda silaba bervariasi bebas denfan f dalam kata-kata
golongan 2
[p] sebagai onset silaba dalam kata golongan 1
Jadi [p] dan [f] adalah alofon dari fonem yang sam, pada kata golongan , yaitu fonem /p/ .

Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang
sama(identis).
Contoh:14) [#kԑcap’#] ‘kecap’
18) [#ki+cap’#] ‘kicap’
Lingkungan identis adalah [#k..+cap’#]
Jadi [ɛ] dan [i] adalah alofon dari fonem yang berbeda, yaitu fonem /ɛ/ dan /i/.

Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang
mirip(analogis).
Contoh: 6) [#pa+sar#] ‘pasar’
12) [#bә+sar#] ‘besar’
Lingkungan yang mirip adalah [#p…+sar#] dan [#b…+sar#]
Jadi ,[a]dan [ә] adalah alofon dari fonem yang berbeda ,yaitu fonem /a/ dan /ɘ/.

 Mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan.
Contoh:
[k]: plosif ,velar mati [k]: plosif, palatal mati
7) [#kә+lap’+ kә+lip’# ‘kelap-kelip’ 3) [#pi+kīr#] ‘fikir’
8) [#ku+ku#] ‘kuku’ 9) [fi+ḳīr#] ‘fikir’
Ternyata: [k] jika diikuti oleh vokoid belakang.
[ḳ] jika diikuti oleh vokoid depan
Jadi, [k] dan [ḳ] adalah berubah lingkungan

 6) homofon adalah istilah yang berlawanan dengan homograf.
homofan mempunyai arti [engertian sama bunyi, berbeda tulisan, berbeda makna.
homograf mempunyai pengertian beda bunyi ,sama tulisan dan sama makna.
contoh kata [k],[e],[r],[a],[s] 'keras' dalam bahasa batak e dibaca keras, sedangkan dalam bahasa indonesia dibaca e biasa, jadi berbeda cara pengucapan bunyi tetapi memiliki makna dan tulisan yang sama.