Selasa, 29 September 2015

RESUME BUKU CHAER (LINGUISTIK UMUM)

NAMA : LINDA SUCI ARNIAWATI
NPM     :156210648
KELAS : 1A
TUGAS 2 ( KEDUA)
MATA KULIAH: LINGUISTIK UMUM
NAMA DOSEN :ERMAWATI SULAIMAN, S.Pd., M.A.


  Rangkuman halaman 59-95
  Buku linguistik

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA
Disebutkan bahwa objek kajian linguistik terbagi dua, : linguistik mikro dan linguistik makro.Linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri. Sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubunganya dengan faktor-faktor di luar bahasa.linguistik mikro merupakan hal yang hakiki dari bahasa itu.sedangkan kajian linguistik makro berhubungan dengan faktor-faktor di luar bahasa yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat,sehingga sangat luas dan beragam.Disini yang akan di bicarakan yaitu mengenai masalah bahasa dalam kaitanya dengan kegiatan sosial di masyarakat.

1 MASYARAKAT BAHASA
Kata masyarakat diartikan sebagai sekelompok orang(dalam jumlah yang banyaknya relative),yang merasa sebangsa ,seketurunan, sewilayah tempat tinggal , atau mempunyai kepentingan sosial yang sama.Yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.Ada sekelompok orang yang merasa sama-sama menggunakan bahasa sunda, maka bisa dikatakan mereka adalah masyarakat bahasa sunda.
Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan bahasa yang sama”,maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit.Masyarakat bahasa bisa melewati batas provinsi, batas Negara,bahkan juga batas benua. Masyarakat bahasa baduy dan masyarakat bahasa osing(di Jawa Timur)tentu saja sangat sedikit atau sempit. Masyarakat bahasa jawa dan masyarakat bahasa sunda tentu lebih luas, dan masyarakat bahasa Indonesia tentu lebih luas lagi.Masyarakat bahasa perancis dan masyarakat bahasa inggris, malah bukan hanya melewati batas Negara ,tetapi juga melewati batas benua.
Akibat lain dari konsep “merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.Secara linguistik bahasa Indonesia dan bahasa melayu adalah bahasa yang sama, karena kedua bahasa itu banyak sekali persamaanya,sehingga orang Malaysia dapat mengerti dengan baik bahasa Indonesia,dan sebaliknya orang Indonesia dapat pula mengerti bahasa melayu dengan baik.Namun, orang Indonesia tidak merasa berbahasa Malaysia , dan orang Malaysia tidak pula merasa berbahasa Indonesia.
Mengenai masyarakat bahasa terdapat masalah mengenai masyarakat yang bilingual atau multilingual.Orang Indonesia pada umumnya adalah bilingual,yaitu menggunakan bahasa daerahnya ,dan kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua,tetapi menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pertama.Banyak juga yang multilingual ,karena selain menguasai bahasa Indonesia juga menguasai  bahasa daerahnya dan bahasa daerah lain atau bahasa asing.Dan bahasa Indonesia itu digunakan dalam tingkat nasional, sedangkan bahasa daerah digunakan pada tingkat kedaerahan.

2 VARIASI DAN STATUS SOSIAL BAHASA
Bahasa, bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam.Berdasarkan penuturnya terdapat dialek-dialek,baik dialek regional maupun dialek social.Dalam masyarakat ada kesepakatan untuk membedakan dua macam variasi bahasa,yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (variasi bahasa T),yang kedua variasi bahasa rendah(variasi bahasa R).Variasi T digunkan dalam situasi-situasi resmi,seperti pidato kenegaraan,bahasa pengantar dalam pendidikan,khotbah,surat-menyurat resmi,dan buku pelajaran. Variasi T ini harus di pelajari di pendidikan formal atau di sekolah-sekolah.Sedangkan variasi bahasa R di gunakan dalam situasi yang tidak formal,seperti di warung,di rumah,di jalan,dalam surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri, dan tidak ada dalam pendidikan formal.Variasi bahasa yunani T di sebut katherevusa dan variasi bahasa yunani R disebut dhimotiki.

3 PENGGUNAAN BAHASA
Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu kominikasi dengan menggunakan bahasa harus memperlihatkan delapan unsur,yang diakronim menjadi SPEAKING,yakni:
1)      Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.contoh percakapan yang terjadi di kantin sekolah sewaktu istirahat berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran sedang berlangsung.
2)      Participants, yaitu orang –orang yang terlibat dalam percakapan. Contoh ali murid kelas dua SMA dan pak ahmad gurunya, berbeda partisipasinya dengan antara Ali dan Karin ,teman sekelasnya. 
3)      Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan.Misalnya,seorang guru bahasa Indonesia menerangkan pelajaranya secara menarik, tetapi hasil yang di dapat adalah sebaliknya siswa-siswanya bosan saat mengikuti kegiatan belajarnya.
4)      Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya
a.       Dia berkata dalam hati ”Mudah-mudahan lamaranku diterima dengan baik”.
b.      Dia berkata dalam hati “mudah-mudahan lamaranya di terima dengan baik.
Perkataan “mudah-mudahan lamaranku di terima dengan baik pada kalimat (a) adalah bentuk percakapan sedangkan kalimat (b) adalah isi percakapan.
5)      Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.Misalnya pelajaran linguistik dapat di berikan dengan cara yang santai ,tetapi dapat juga di berikan dengan semangat yang menyala-nyala.
6)      Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan. Apakah secara lisan atau bukan.
7)      Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
8)      Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang di gunakan.

4 KONTAK BAHASA
Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa.Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa dari masyarakat yang datang .Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya yang di sebut bilingualism atau multilingualisme.
Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang disebut interferensi,integrasi,alihkode (code-switch-ing) dan campurkode(code-mixing)
Interferensi adalah terbawa masuknya unsure bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang sedang di gunakan itu.contoh pada tataran fonologi misalnya penutur bahasa jawa mengucapkan /b/,/d/,/j/, dan /g/, menggunakan konsonan dengan bunyi nasalyang homorgan. Jadi kata bogor akan diucapkan mBogor , depok dilafalkan nDepok. Interferensi pada tataran gramatikal , misalnya menggunakan prefiks  ke- seperti pada kata kepukul,ketabrak,dan kebaca yang seharusnya terpukul,tertabrak,dan terbaca.contoh interferensi dalam tataran sintaksis adalah susunan kalimat pasif .contohnya susunan kalimat seperti di sini toko  laris yang mahal sendiri karena susunan bahasa jawanya adalah nimg kene took laris sing larang dhewe, padahal susunan bahasa Indonesianya yang baku adalah Toko laris adalah toko yang paling mahal disini.interferensi leksikal adalah digunakanya bahasa yang lain kedalam bahasa yang sedang di gunakan.Misalnya sewaktu berbahasa Indonesia terbawa masuk kata-kata bahasa jawa,bahasa sunda,atau bahasa lainya.
Integrasi  yaitu terdapat unsure-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu,sudah dianggap ,diperlakukan,dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau yang dimasukinya.proses integrasi itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk  disesuaikan baik lafalnya ,ejaanya,maupun tata bentuknya, seperti kata dalam bahasa Indonesia yang sekarang dieja menjadi montir,riset,sopir,dan dongkrak adalah contoh yang sudah berintegrasi.  
alihkode ,yaitu beralihnya penggunaan suatu kode(bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) kedalam kode yang lain(bahasa atau ragam bahasa yang lain). umpamanya ketika A dan B sedang bercakap-cakap dalam bahasa indonesia , datanglah C yang tidak mengerti bahasa indonesia tetapi dapat berbahasa inggris(kebetulan A dan B dapat pula berbahasa inggris), kemudian digunakanlah bahasa inggris. setelah C pamit ,A dan B meneruskan kembali bercakap-cakap dalam bahasa indonesia.
alih kode terjadi karena sebab, sedangkan campur kode terjadi tanpa sebab dan biasanya terjadi dalam situasi santai.

 
F.BAHASA DAN BUDYA
            Objek kajian linuistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan.H ipotesis yang di keluarkan oleh dua oran pakar ,yaitu Edward saoir dan Benjamin lee whorf (hipotesis sapir-whorf)yang menyatakan bahwa bahasa mempunyai kebudayaaan.Atau dengan lebih jelas,bahasa itu mempengaruhi cara berfikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.Jadi, bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia.Dan yang banyak diikuti orang,pendapat yang merupakan kebalikan dari hipotesis sapir-whorf itu,yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa,Umpamanya, masyarakat inggris tidak ada kata untuk menyatakan padi, gabah, dan nasi.Yang ada Cuma kata rice.Eskimo yang sehari-hari bergelut dengan salju mempunyai lebih dari sepuluh buah kata untuk menyebut berbagai jenis salju.Sedangkan masyarakat Indonesia  hanya ada satu sebutan yaitu salju.kamnus inggris webstr’s terdaftar lebih dari 600.000 buah kata,sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia tidak lebih dari 60.000 buah kata.karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini,maka ada pakar yag menyamakan hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam,dua hal yang tidak bisa dipisahkan atau sebagai sekeping mata uang,sisi yang satu adalah bahasa dan sisi yang lain adalah kebudayaan.

 G.KLASIFIKASI BAHASA
             Klasifikasi juga bermacam-macam.Menurut Greenbreg (1957:66) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer,dan unik.Yang dimaksud nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya,hanya harus ada satu Kriteria.Unik yaitu kalau suatu bahasa sudah masuk kedalam salah satu kelompok  tidak bisa lagi masuk ke dalam kelompok yang lain.Pendekatan yang di gunakan untuk membuat klasifikasi dibedakan menjadi empayt yaitu:1)pendekatan genetis, 2)pendekatan tipologis, 3)pendekatan areal, 4)pendekatan sosiolinguistik.  

           1.KLASIFIKASI GENETIS
            Klasifikasi genetis,disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya , suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Suatu bahasa proto (bahasa tua)akan pecah dan menurunkan pula bahasa-bahasa lain.Kemudian bahasa lain juga akan menurunkan lagi bahasa-bahasa pecahan berikutnya.Mengapa bahasa itu bisa menyebar dan kemudian berubah. Jawabanya adalah , penyebaran bahasa itu biasanya terjadi  karena penuturnya menyebar atau berpindah tempat sebagai akibat adanya peperangan atau bencana alam.Kemudian karena tidak ada kontak lagi dengan tempat asalnya, maka sedikit demi sedikit bahasa menjadi berubah.Perubahan itu dapat terjadi pada semua tataran dari fonologi,morfologi,sintaksis,semantik, dan leksikon.

            I.KLASIFIKASI TIPOLOGIS
      Klasifikkasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat dalam sejumlah bahasa. Pendekatan tipologis menggunakan kesamaan tipologi,fonologi,morfolo.
Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa.unsur yang berulang ini dapat mengenai bunyi,morfem,kata,frase,kalimat.oleh karena itu ,klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa. Maka klasifikasinya dapat bermacam-macam. Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad xix secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok,yaitu;kelompok pertama, adalah semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebaai dasar klasifikasi. Yang mengusulkan fredrich von schlegel,dia member bahasa di dunia ini pada tahun 1808 menjadi dua kelompok,yaitu kkelompok bahasa berafiks dan kelompok bahasa berfleksi.kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.tokohnya franz bopp,yang membagi bahasa-bahasa di dunia ini atas bahasa yang mempunyai akar kata yang monosilabis, misalnya bahasa cina yang mampu mengadakan komposisi, misalnya bahasa indo eropa dan bahasa austranesia dan akar kata yang silabis dengan tidak konsonan,seperrti bahasa arab ibrani. Kelompok ketiga adalah mengggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.pakarnya h. Stheintal yamg membagi bahasa di dunia atas bahasa-bahasa yang berbentuk dan bahasa-bahasa yang tidak berbentuk.
         
           2. KLASIFIKASI AREAL
            Klasifikasi areal ini dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau wilayah.klasifikasi ini bersifat arbiter kerena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal tertentu yang terbatas.selain itu ,klasifikasi ini pun bersifat nonunik,sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk kedalam kelompok lainya
           
           3.KLASIFIKASI SOSIOLINGUISTIK
            Klasifikasi sosiolinguistik yang dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa. Faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat; tepatnya,berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Histrositas berkenaan dengan Sejarah perkembangan bahasa atau pemakaian bahasa itu. Kriteria histrosits ini akan menjadi positif kalau bahasa itu mempunyai sejarah perkembangan atau sejarah pemakaiaannya.kriteria standarisasi berkenan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau bahasa tidak baku.klasifikasi oleh William A.Stuart tahun 1962, klasifikasi dilakukan berdasarkan empat cirri atau criteria yaitu historitis,standarisas ,vitalitas,dan homogenesitas.Dengan menggunakan keempat cirri ,hasil klasifikasi bisa menjadi ekshaustik sebab semua bahasa di dunia dapat dimasukkan kedalam kelompok-kelompok tertentu.contoh bahasa ibrani merupakan bahasa klasik dalam ibadah agama yahudi ,tetapi sejak berdirinya negara Israel, bahasa tersebut di tetapkan sebagai bahasa resmi atau bahasa standar negara tersebut.
          
  H.BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA
            Bahasa adalah sebuah system bunyi. Jadi,bahasa itu adalah apa yang disajikan juga sudah disebutkan bahwa linguistik bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang diucapkan,bukan yang dituliskan. Namun, linguistik sebenarnya juga tidak menutup diri terhadap bahasa tulis. Bahasa tulis dekat sekali dengan bahasa.bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa tulis dapat disampaikan lama sampai waktu yang tak terbatas. Karna itulah, kita bisa memperoleh informasi dari masa lalu atau dari tempat yang jauh melalui bahasa tulis ini. Bahasa tulis sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan, sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yangberada dalam ruangan dan waktu yang berbeda. Bahasa tulis sebenarnya tidak lain dari rekaman bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada perbedaan besar antara dengan bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman.bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran,peluang untuk terjdi kesalahan dan kesalah pahaman dalam bahasa itu sangat besar.mengenai asal mula tulisan hingga saat ini belum dapat dipastikan.dulu banyak berkembang cerita-cerita mengenai kapan dimulai adanya tulisan ini. ada cerita yang mengatakan bahwa tulisan itu temukan oleh Cadmus seorang pangeran dari Phunisia, dan lalu membawanya ke yunani.
            Jauh sebelumnya tulisan romawi atau latin itu tiba diindonesia, berbagai bahasa Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang kenalkan bahasa jawa, bahasa sunda, bahasa bugis, bahasa makasar, bahasa lampung, bahasa batak, dan bahasa sasak. Aksara-aksara itu diturunkan dari aksara pallawa( yang digunakan indonesai selatan pada abab IV Masehi) yang tersebar diindonesia bersamaan dengan penyebaran agama hindu dan agama budha. Datangnya agama islam diindonesia menyebabkan tersebarnya pula aksara arab. Aksara arab ini dengan berbagai modifikasi digunkan dalam bahasa melayu,bahasa jawa, dan beberpa bahsa daerah lain.
            Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis dengan bahasa tulisan kita menemukan istilah-islilah huruf, abjad , alphabet , aksara , graf, grafen, alograf,dan juga kaligrafi dan graffiti. Huruf : adalah istilah umum untuk graf dan grafen . abjad atau alphabet adalah urutan-urutan dalam sistem aksara misalnya dalam aksara latin.Aksara adlah keseluruhan system tulisan,misalnya aksara latin,aksara arab, dan aksara. Graf adalah satuan terkecil dalam akssara yang belum ditentukan statusnya, grafena adalah satuan terkecil dalam aksara yangmenggambarkan fonen,suku kata atau morfen, tergantung dari system aksara yang bersangkutan. Alograf adalah varian dari grafen.kaligrafi adalah karya seni atau seni dalam menulis indah. Graffiti adalah coret-coret di dinding, tembok, pagar, dan sebagainya dengan huruf-huruf tertentu. Jenis-jenis aksara yaitu aksara piktografis, aksara idieografis, aksara silabis, dan aksara ponemis. Semua jenis aksara itu tidak bisa “merekam” bahasa lisan secara sempurn. Aksara latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis. Jadi, setiapsilabis akan dinyatakan dengan huruf vokal dan konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan ponem. Vokal dan huruf kosonan untuk melmbangkan ponem konsonan dari bahasa yang bersangkutan.
            Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya di pakai untuk melambangkan suatu fonem. Ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan suatu fonem. Namun, tanpa ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik dari pada bahasa inggris, sedangkan ejaan bahasa fin dan bahasa turki adalah sudah idea kerena dalam bahasa fin dan bahasa turki setiap huruf melambangkan satu fonem.

  
     
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar