NPM :156210648
KELAS : 1A
TUGAS 2 ( KEDUA)
MATA KULIAH: LINGUISTIK UMUM
NAMA DOSEN :ERMAWATI SULAIMAN, S.Pd., M.A.
Rangkuman halaman
59-95
Buku linguistik
BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA
Disebutkan bahwa objek kajian linguistik terbagi dua, :
linguistik mikro dan linguistik makro.Linguistik mikro adalah struktur intern
bahasa atau sosok bahasa itu sendiri. Sedangkan kajian linguistik makro adalah
bahasa dalam hubunganya dengan faktor-faktor di luar bahasa.linguistik mikro
merupakan hal yang hakiki dari bahasa itu.sedangkan kajian linguistik makro
berhubungan dengan faktor-faktor di luar bahasa yang berkaitan dengan kegiatan
manusia di dalam masyarakat,sehingga sangat luas dan beragam.Disini yang akan
di bicarakan yaitu mengenai masalah bahasa dalam kaitanya dengan kegiatan
sosial di masyarakat.
1 MASYARAKAT BAHASA
Kata masyarakat diartikan sebagai sekelompok orang(dalam
jumlah yang banyaknya relative),yang merasa sebangsa ,seketurunan, sewilayah
tempat tinggal , atau mempunyai kepentingan sosial yang sama.Yang dimaksud
dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa
yang sama.Ada sekelompok orang yang merasa sama-sama menggunakan bahasa sunda,
maka bisa dikatakan mereka adalah masyarakat bahasa sunda.
Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa
menggunakan bahasa yang sama”,maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas
dan dapat menjadi sempit.Masyarakat bahasa bisa melewati batas provinsi, batas
Negara,bahkan juga batas benua. Masyarakat bahasa baduy dan masyarakat bahasa
osing(di Jawa Timur)tentu saja sangat sedikit atau sempit. Masyarakat bahasa
jawa dan masyarakat bahasa sunda tentu lebih luas, dan masyarakat bahasa
Indonesia tentu lebih luas lagi.Masyarakat bahasa perancis dan masyarakat
bahasa inggris, malah bukan hanya melewati batas Negara ,tetapi juga melewati
batas benua.
Akibat lain dari konsep “merasa menggunakan bahasa yang
sama”, maka patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.Secara
linguistik bahasa Indonesia dan bahasa melayu adalah bahasa yang sama, karena
kedua bahasa itu banyak sekali persamaanya,sehingga orang Malaysia dapat
mengerti dengan baik bahasa Indonesia,dan sebaliknya orang Indonesia dapat pula
mengerti bahasa melayu dengan baik.Namun, orang Indonesia tidak merasa
berbahasa Malaysia , dan orang Malaysia tidak pula merasa berbahasa Indonesia.
Mengenai masyarakat bahasa terdapat masalah mengenai
masyarakat yang bilingual atau multilingual.Orang Indonesia pada umumnya adalah
bilingual,yaitu menggunakan bahasa daerahnya ,dan kebanyakan menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa kedua,tetapi menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa
pertama.Banyak juga yang multilingual ,karena selain menguasai bahasa Indonesia
juga menguasai bahasa daerahnya dan
bahasa daerah lain atau bahasa asing.Dan bahasa Indonesia itu digunakan dalam
tingkat nasional, sedangkan bahasa daerah digunakan pada tingkat kedaerahan.
2 VARIASI DAN STATUS SOSIAL BAHASA
Bahasa, bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa
itu sangat beragam.Berdasarkan penuturnya terdapat dialek-dialek,baik dialek
regional maupun dialek social.Dalam masyarakat ada kesepakatan untuk membedakan
dua macam variasi bahasa,yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (variasi
bahasa T),yang kedua variasi bahasa rendah(variasi bahasa R).Variasi T digunkan
dalam situasi-situasi resmi,seperti pidato kenegaraan,bahasa pengantar dalam
pendidikan,khotbah,surat-menyurat resmi,dan buku pelajaran. Variasi T ini harus
di pelajari di pendidikan formal atau di sekolah-sekolah.Sedangkan variasi
bahasa R di gunakan dalam situasi yang tidak formal,seperti di warung,di
rumah,di jalan,dalam surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri, dan tidak
ada dalam pendidikan formal.Variasi bahasa yunani T di sebut katherevusa dan
variasi bahasa yunani R disebut dhimotiki.
3 PENGGUNAAN BAHASA
Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa
suatu kominikasi dengan menggunakan bahasa harus memperlihatkan delapan
unsur,yang diakronim menjadi SPEAKING,yakni:
1)
Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan
dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.contoh percakapan yang terjadi di
kantin sekolah sewaktu istirahat berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika
pelajaran sedang berlangsung.
2)
Participants, yaitu orang –orang yang terlibat
dalam percakapan. Contoh ali murid kelas dua SMA dan pak ahmad gurunya, berbeda
partisipasinya dengan antara Ali dan Karin ,teman sekelasnya.
3)
Ends, yaitu maksud dan hasil
percakapan.Misalnya,seorang guru bahasa Indonesia menerangkan pelajaranya
secara menarik, tetapi hasil yang di dapat adalah sebaliknya siswa-siswanya
bosan saat mengikuti kegiatan belajarnya.
4)
Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada
bentuk dan isi percakapan. Misalnya
a.
Dia berkata dalam hati ”Mudah-mudahan lamaranku
diterima dengan baik”.
b.
Dia berkata dalam hati “mudah-mudahan lamaranya
di terima dengan baik.
Perkataan “mudah-mudahan lamaranku di terima dengan baik pada kalimat (a)
adalah bentuk percakapan sedangkan kalimat (b) adalah isi percakapan.
5)
Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat
dalam melaksanakan percakapan.Misalnya pelajaran linguistik dapat di berikan
dengan cara yang santai ,tetapi dapat juga di berikan dengan semangat yang
menyala-nyala.
6)
Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada
jalur percakapan. Apakah secara lisan atau bukan.
7)
Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku
peserta percakapan.
8)
Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau
ragam bahasa yang di gunakan.
4 KONTAK BAHASA
Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya
dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau
lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa.Bahasa
dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa
dari masyarakat yang datang .Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari
adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya yang di sebut
bilingualism atau multilingualisme.
Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai
akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa
atau kasus yang disebut interferensi,integrasi,alihkode (code-switch-ing) dan
campurkode(code-mixing)
Interferensi adalah terbawa masuknya unsure bahasa lain ke
dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah
dari bahasa yang sedang di gunakan itu.contoh pada tataran fonologi misalnya
penutur bahasa jawa mengucapkan /b/,/d/,/j/, dan /g/, menggunakan konsonan
dengan bunyi nasalyang homorgan. Jadi kata bogor akan diucapkan mBogor , depok
dilafalkan nDepok. Interferensi pada tataran gramatikal , misalnya menggunakan
prefiks ke- seperti pada kata
kepukul,ketabrak,dan kebaca yang seharusnya terpukul,tertabrak,dan
terbaca.contoh interferensi dalam tataran sintaksis adalah susunan kalimat
pasif .contohnya susunan kalimat seperti di sini toko laris yang mahal sendiri karena susunan
bahasa jawanya adalah nimg kene took laris sing larang dhewe, padahal susunan
bahasa Indonesianya yang baku adalah Toko laris adalah toko yang paling mahal
disini.interferensi leksikal adalah digunakanya bahasa yang lain kedalam bahasa
yang sedang di gunakan.Misalnya sewaktu berbahasa Indonesia terbawa masuk
kata-kata bahasa jawa,bahasa sunda,atau bahasa lainya.
Integrasi yaitu
terdapat unsure-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu,sudah dianggap
,diperlakukan,dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau yang
dimasukinya.proses integrasi itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk disesuaikan baik lafalnya ,ejaanya,maupun
tata bentuknya, seperti kata dalam bahasa Indonesia yang sekarang dieja menjadi
montir,riset,sopir,dan dongkrak adalah contoh yang sudah berintegrasi.
alihkode ,yaitu beralihnya penggunaan suatu kode(bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) kedalam kode yang lain(bahasa atau ragam bahasa yang lain). umpamanya ketika A dan B sedang bercakap-cakap dalam bahasa indonesia , datanglah C yang tidak mengerti bahasa indonesia tetapi dapat berbahasa inggris(kebetulan A dan B dapat pula berbahasa inggris), kemudian digunakanlah bahasa inggris. setelah C pamit ,A dan B meneruskan kembali bercakap-cakap dalam bahasa indonesia.
alih kode terjadi karena sebab, sedangkan campur kode terjadi tanpa sebab dan biasanya terjadi dalam situasi santai.
F.BAHASA DAN BUDYA
Objek
kajian linuistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau
kebudayaan.H ipotesis yang di keluarkan oleh dua oran pakar ,yaitu Edward saoir
dan Benjamin lee whorf (hipotesis sapir-whorf)yang menyatakan bahwa bahasa
mempunyai kebudayaaan.Atau dengan lebih jelas,bahasa itu mempengaruhi cara
berfikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.Jadi, bahasa itu menguasai
cara berpikir dan bertindak manusia.Dan yang banyak diikuti orang,pendapat yang
merupakan kebalikan dari hipotesis sapir-whorf itu,yaitu bahwa kebudayaanlah
yang mempengaruhi bahasa,Umpamanya, masyarakat inggris tidak ada kata untuk
menyatakan padi, gabah, dan nasi.Yang ada Cuma kata rice.Eskimo yang
sehari-hari bergelut dengan salju mempunyai lebih dari sepuluh buah kata untuk
menyebut berbagai jenis salju.Sedangkan masyarakat Indonesia hanya ada satu sebutan yaitu salju.kamnus
inggris webstr’s terdaftar lebih dari 600.000 buah kata,sedangkan dalam kamus
besar bahasa Indonesia tidak lebih dari 60.000 buah kata.karena eratnya
hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini,maka ada pakar yag menyamakan
hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam,dua hal yang tidak bisa
dipisahkan atau sebagai sekeping mata uang,sisi yang satu adalah bahasa dan
sisi yang lain adalah kebudayaan.
G.KLASIFIKASI BAHASA
Klasifikasi juga bermacam-macam.Menurut Greenbreg (1957:66) suatu klasifikasi
yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer,dan unik.Yang dimaksud
nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya,hanya
harus ada satu Kriteria.Unik yaitu kalau suatu bahasa sudah masuk kedalam salah
satu kelompok tidak bisa lagi masuk ke
dalam kelompok yang lain.Pendekatan yang di gunakan untuk membuat klasifikasi
dibedakan menjadi empayt yaitu:1)pendekatan genetis, 2)pendekatan tipologis,
3)pendekatan areal, 4)pendekatan sosiolinguistik.
1.KLASIFIKASI
GENETIS
Klasifikasi
genetis,disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis
keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya , suatu bahasa berasal atau diturunkan
dari bahasa yang lebih tua. Suatu bahasa proto (bahasa tua)akan pecah dan
menurunkan pula bahasa-bahasa lain.Kemudian bahasa lain juga akan menurunkan
lagi bahasa-bahasa pecahan berikutnya.Mengapa bahasa itu bisa menyebar dan
kemudian berubah. Jawabanya adalah , penyebaran bahasa itu biasanya
terjadi karena penuturnya menyebar atau
berpindah tempat sebagai akibat adanya peperangan atau bencana alam.Kemudian
karena tidak ada kontak lagi dengan tempat asalnya, maka sedikit demi sedikit
bahasa menjadi berubah.Perubahan itu dapat terjadi pada semua tataran dari
fonologi,morfologi,sintaksis,semantik, dan leksikon.
I.KLASIFIKASI
TIPOLOGIS
Klasifikkasi tipologis
dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat dalam sejumlah
bahasa. Pendekatan tipologis menggunakan kesamaan tipologi,fonologi,morfolo.
Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang
dalam suatu bahasa.unsur yang berulang ini dapat mengenai bunyi,morfem,kata,frase,kalimat.oleh
karena itu ,klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa.
Maka klasifikasinya dapat bermacam-macam. Klasifikasi pada tataran morfologi
yang telah dilakukan pada abad xix secara garis besar dapat dibagi tiga
kelompok,yaitu;kelompok pertama, adalah semata-mata menggunakan bentuk bahasa
sebaai dasar klasifikasi. Yang mengusulkan fredrich von schlegel,dia member
bahasa di dunia ini pada tahun 1808 menjadi dua kelompok,yaitu kkelompok bahasa
berafiks dan kelompok bahasa berfleksi.kelompok kedua adalah yang menggunakan
akar kata sebagai dasar klasifikasi.tokohnya franz bopp,yang membagi bahasa-bahasa
di dunia ini atas bahasa yang mempunyai akar kata yang monosilabis, misalnya
bahasa cina yang mampu mengadakan komposisi, misalnya bahasa indo eropa dan bahasa
austranesia dan akar kata yang silabis dengan tidak konsonan,seperrti bahasa
arab ibrani. Kelompok ketiga adalah mengggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar
klasifikasi.pakarnya h. Stheintal yamg membagi bahasa di dunia atas bahasa-bahasa
yang berbentuk dan bahasa-bahasa yang tidak berbentuk.
2.
KLASIFIKASI AREAL
Klasifikasi
areal ini dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang
satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa
memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau
wilayah.klasifikasi ini bersifat arbiter kerena dalam kontak sejarah
bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal tertentu yang
terbatas.selain itu ,klasifikasi ini pun bersifat nonunik,sebab ada kemungkinan
sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk kedalam
kelompok lainya
3.KLASIFIKASI
SOSIOLINGUISTIK
Klasifikasi
sosiolinguistik yang dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa.
Faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat; tepatnya,berdasarkan status,
fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Histrositas berkenaan
dengan Sejarah perkembangan bahasa atau pemakaian bahasa itu. Kriteria
histrosits ini akan menjadi positif kalau bahasa itu mempunyai sejarah
perkembangan atau sejarah pemakaiaannya.kriteria standarisasi berkenan dengan
statusnya sebagai bahasa baku atau bahasa tidak baku.klasifikasi oleh William
A.Stuart tahun 1962, klasifikasi dilakukan berdasarkan empat cirri atau criteria
yaitu historitis,standarisas ,vitalitas,dan homogenesitas.Dengan menggunakan
keempat cirri ,hasil klasifikasi bisa menjadi ekshaustik sebab semua bahasa di dunia
dapat dimasukkan kedalam kelompok-kelompok tertentu.contoh bahasa ibrani merupakan
bahasa klasik dalam ibadah agama yahudi ,tetapi sejak berdirinya negara Israel,
bahasa tersebut di tetapkan sebagai bahasa resmi atau bahasa standar negara tersebut.
H.BAHASA
TULIS DAN SISTEM AKSARA
Bahasa
adalah sebuah system bunyi. Jadi,bahasa itu adalah apa yang disajikan juga
sudah disebutkan bahwa linguistik bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang
diucapkan,bukan yang dituliskan. Namun, linguistik sebenarnya juga tidak
menutup diri terhadap bahasa tulis. Bahasa tulis dekat sekali dengan
bahasa.bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa
tulis dapat disampaikan lama sampai waktu yang tak terbatas. Karna itulah, kita
bisa memperoleh informasi dari masa lalu atau dari tempat yang jauh melalui
bahasa tulis ini. Bahasa tulis sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan,
sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan
kepada orang lain yangberada dalam ruangan dan waktu yang berbeda. Bahasa tulis
sebenarnya tidak lain dari rekaman bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada
perbedaan besar antara dengan bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa tulis
bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita
merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman.bahasa tulis sudah dibuat orang
dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa
pertimbangan dan pemikiran,peluang untuk terjdi kesalahan dan kesalah pahaman
dalam bahasa itu sangat besar.mengenai asal mula tulisan hingga saat ini belum
dapat dipastikan.dulu banyak berkembang cerita-cerita mengenai kapan dimulai
adanya tulisan ini. ada cerita yang mengatakan bahwa tulisan itu temukan oleh
Cadmus seorang pangeran dari Phunisia, dan lalu membawanya ke yunani.
Jauh
sebelumnya tulisan romawi atau latin itu tiba diindonesia, berbagai bahasa
Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang kenalkan bahasa jawa, bahasa
sunda, bahasa bugis, bahasa makasar, bahasa lampung, bahasa batak, dan bahasa
sasak. Aksara-aksara itu diturunkan dari aksara pallawa( yang digunakan
indonesai selatan pada abab IV Masehi) yang tersebar diindonesia bersamaan
dengan penyebaran agama hindu dan agama budha. Datangnya agama islam
diindonesia menyebabkan tersebarnya pula aksara arab. Aksara arab ini dengan
berbagai modifikasi digunkan dalam bahasa melayu,bahasa jawa, dan beberpa bahsa
daerah lain.
Dalam
pembicaraan mengenai bahasa tulis dengan bahasa tulisan kita menemukan
istilah-islilah huruf, abjad , alphabet , aksara , graf, grafen, alograf,dan
juga kaligrafi dan graffiti. Huruf : adalah istilah umum untuk graf dan grafen
. abjad atau alphabet adalah urutan-urutan dalam sistem aksara misalnya dalam
aksara latin.Aksara adlah keseluruhan system tulisan,misalnya aksara
latin,aksara arab, dan aksara. Graf adalah satuan terkecil dalam akssara yang
belum ditentukan statusnya, grafena adalah satuan terkecil dalam aksara
yangmenggambarkan fonen,suku kata atau morfen, tergantung dari system aksara
yang bersangkutan. Alograf adalah varian dari grafen.kaligrafi adalah karya
seni atau seni dalam menulis indah. Graffiti adalah coret-coret di dinding,
tembok, pagar, dan sebagainya dengan huruf-huruf tertentu. Jenis-jenis aksara
yaitu aksara piktografis, aksara idieografis, aksara silabis, dan aksara ponemis.
Semua jenis aksara itu tidak bisa “merekam” bahasa lisan secara sempurn. Aksara
latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis. Jadi, setiapsilabis akan
dinyatakan dengan huruf vokal dan konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan
ponem. Vokal dan huruf kosonan untuk melmbangkan ponem konsonan dari bahasa
yang bersangkutan.
Ada
pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan ideal adalah ejaan yang melambangkan
tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya di pakai
untuk melambangkan suatu fonem. Ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen
ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan suatu fonem.
Namun, tanpa ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik dari pada bahasa
inggris, sedangkan ejaan bahasa fin dan bahasa turki adalah sudah idea kerena
dalam bahasa fin dan bahasa turki setiap huruf melambangkan satu fonem.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar